Judul
: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang
: Tere Liye
Penerbit
: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit
: November 2011
Jumlah
halaman : 256
halaman
Warna
sampul
: Hijau-coklat-Putih
Jumlah
cetakan : 264
Kota
terbit
: Jl. Palmerah barat 29-37 Blok. 1 Jakarta
ISBN
: 978-979-22-5780-9
Sipnosis
Dia
bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari
kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh,
sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan
kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan
lihatlah, aku
membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami.
Tak pantas. Maafkan aku, Ibu.
Perasaan
kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak
rambutku masih dikepang dua.Sekarang, ketika aku tahu dia boleh
jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri,
biarlah... Biarlah aku luruh ke
bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggut-kan
dari tangkai pohonnya.
1. Unsur intriksik
a) Tema
: Perasaan yang dirahasiakan
b) Gaya Bahasa:
Hiperbola :
·
Meruntuhkan semua harapan. Membuatku
tergugu, berfikir tentang hari esokku yang tiba-tiba sama sekali tidak
menyisakan puing lagi. Puing-puing yang mungkin bisa dibangun kembali (Hal 130)
·
Demi membaca e-mail berdarah-darah
itu, esoknya aku memutuskan pulang segera ke Jakarta (Hal. 230)
Metafora :
·
Bagian tajamnya menghadap ke atas
begitu saja, dan tanpa ampun menghunjam kakiku yang sehelai pun tak beralas
saat melewatinya. (Hal. 22)
Personifikasi :
·
Menuju tempat rumah kardus kami dulu
berdiri kokoh dihajar hujan deras, ditimpa terik matahari. (Hal. 231)
·
Hujan deras turun membungkus kota
ini (Hal. 13)
Alegori
:
·
Waktu benar-benar berlalu melesat
bagai desingan peluru (109)
c) Sudut Pandang :
Orang pertama pelaku utama
d) Tokoh
:
1. Tania
:
·
Pantang menyerah (Menjalani
kehidupan dari tidak punya apa-apa sampai sukses)
·
Tekun (Tekun belajar hingga mendapat
beasiswa di Singapura)
·
Ramah (Disukai banyak orang)
·
Setia( Tetap mencintai danar walau
banyak laki-laki yang mencintainya)
·
Tidak pernah mengingkari janji
2. Dede
:
·
Iseng (Sering membuat Tania
kesal)
·
Berpikir dewasa (Selalu mengemukakan
pendapat yang bijak)
·
Innocent
3. Ibu
:
·
Sabar ( Tetap sabar menjalani
kehidupan walau badannya tidak kuat menanggung itu semua)
·
Berusaha (Berjualan kue untuk
memenuhi kebutuhan hidup)
4. Danar
:
·
Ringan tangan (Menolong tania ketika
kakinya tertusuk paku)
·
Bertanggung jawab (Membiayai
dan mengurus Tania dan Dede setelah ibunya meninggal)
·
Suka kepada anak-anak (Membuka kelas
mendongeng dirumahnya)
·
Ramah ( Disukai banyak orang)
·
Dewasa ( Dilihat dari cara
berbicara, dan berpikiran)
5. Kak
Ratna :
·
Ramah ( Ketika bertemu dengan Tania
dan keluarga untuk pertama kali)
·
Sabar ( Menghadapi Danar setelah
pernikhan)
·
Tidak berprasangka buruk
6. Anne
:
·
Dewasa( Dari cara memberi nasehat
dan berfikir)
·
Teman yang baik (Selalu ada untuk
Tania ketika membutuhkan teman dan saran)
e) Alur
: Maju Mundur
f) Latar
Tempat
: Rumah Tania, Di Dalam Bis, Toko Buku, Kontrakan Danar, Asrama
Tania di Singapura
Waktu : Pagi, Siang, Sore, dan Mala m
Suasana : Senang, Duka, Bahagia, Rindu, dan Sedih.
g) Amanat
:
·
Jangan pernah berhenti berusaha,
karna usaha yang kita lakukan menentukan hasil yang akan kita dapatkan.
·
Jujur dengan perasaan sendiri dan
dengan cepat mengambil keputusan yang benar sesuai dengan kata hati sebelum
terlambat dan akhirnya menyesal karna waktu tidak pernah bisa kita ulang.
2. Unsur
Ekstrinsik
1. Nilai Sosial : Selalu
menolong orang yang kesultan tidak peduli siapa yang akan kita tolong, seperti
tokoh Danar di novel tersebut.
2. Nilai Moral : Memberi pengetahuan kepada kita bahwa sesuatu yang terlihat
sulit nyatanya tidak sesulit yang kita lihat jika kita ingin bersungguh sungguh
mencapainya seperti dalam novel tokoh Tania yang pantang menyerah menjalani
hidupnya walau banyak rintangan yang menghalanginya. Memegang janji ‘Aku
menyeka sudut mataku yang berair. Tidak. Aku sudah berjanji kepada Ibu untuk
tidak pernah menangis. Apalagi menangis hanya karena mengingat semua kenangan
buruk itu.’ (Hal. 31)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar